Selasa, 08 Mei 2012

~" MENGEJAR MASA DEPAN "~

Dibilik relung akalku banyak cita-cita yang terfikir
Keinginan yang menjanjikan harapan besar
Mengejar dan ingin menggapainya
Maka kutapaki jalan menuju cita-cita itu

Kadang aku tak mampu bersua
Mungkin karena tak bisa dipastikan
Apakah bisa digapai
Namun, selalu kukejar untuk memastikannya

Hanya dasar optimis
Berlari dalam dekapan waktu
Menggegar semangat tak surut
Hanya dalam angan masa

Banyak yang menanggalkan
Hingga Kehancuran melandanya
Tapi aku, Tak akan berhenti
Hingga kuraih ia dimasa datang

Hanya karena keberanianku
Kutancapkan kegigihan
Kutingkatkan kemampuan
Hingga masa depan menjawab harapan yang kukejar

Azhari Belajar Nulis Puisi

~" SAAT KAU JAUH "~

Aku tak sanggup menggapaimu
Aku hanya bisa mencercah sang malam
Mungkin urung niat mencair
Menggelayut dalam gelap

Terbayang sosok indahmu
Teringat tutur lembutmu
Intuisi menyeretku kedalam lembah
Tapi bayang kenang berteriak

Apakah ini karena engkau yang sedang jauh?
Apakah ini karena engkau tak berada disisi?
Apakah ini penanda yang membilik sejarah?
Ataukah, malam sebagai pembatas

Mungkin benar
Saat ini aku hanya bisa mengukir malam
Karena dikegelapan larut mencekam
Tetap kenang saat kau jauh

Azhari Belajar Nulis Puisi

~" BUTIR-BUTIR HUJAN YANG TERKENANG "~

Butiran-butiran air itu terlihat jatuh kedaun-daun
Tepat berada dipinggir jalan menuju kota kecil
Jiwa mengenang
Namun, letih menggelayut

Kutatap sang cakrawala disore ini 
Mendung disana sini
Masih mengenang
Dan, otak mulai bergegar

Tetap kulihat ia bersama bayang-bayang waktu
Aku terganggu
Aku tak bisa menepis
Kenangan menguasai

Sebuah realita
Menganggu jiwa
Mengusik hati dalam kemunafikan
Sungguh sangat terkenang

Kulihat lagi butiran-butiran cair itu berjatuhan
Menerpa wajahku
Tapi rasa tetap mengenang
Sungguh sangat terkenang

Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju, Selasa 08 Mei 2012, Pukul 15:58 Wita

Senin, 07 Mei 2012

~" DIBALIK MUNDURNYA DARI GOLKAR "~

Optimismenya sangat kuat
Ia berani nyatakan sikap
Sikap untuk hengkang 
Dari balik jiwa sang pemberani

Ia memang adalah politisi sejati
Kepekaan yang menggelegar
Keyakinan yang kokoh
Sungguh iapun peribadi yang komitmen

Sikapnya menusuk panji-panji sejawatnya
Mundurnya kagetkan se isi kota manakarra Sulawesi Barat
Berani memikul kesejatiannya
Sungguh memang ia politisi sejati

Banyak yang menyudutkannya
Mungkin juga menertawainya
Tapi, itulah komitmennya
Komitmen yang lahir dari relung jiwa kesejatiannya

25 tahun ia berada disana
Tepat dibilik sejarah
Ia dibesarkan dan membesarkannya
Namanya partai Golkar

Sungguh banyak pula yang mendukungnya
Karena kematangannya
Karena prinsipnya
Ia berani mundur dari medan pertempuran itu

Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju, Senin 07 Mei 2012, Pukul 19:50 Wita.

~" REALITA KEHIDUPAN "~

Kulihat jompo-jompo tua sedang berjalan tak berbaju
Kurus hingga tinggal tulang
Terlihat ia yang belum dapat sesuap nasi
Sungguh sangat memiriskan hati

Kulihat balita yang tak punya susu
Buruk gizinya
Dan, Kehidupan orang tuanya memperihatinkan
Sungguh sangat memiriskan hati

Kulihat juga seorang ibu yang memakai pakaian sobek-sobek
Tidur dipinggir jalan
Dan, tidak diperhatikan oleh bansa ini
Sungguh sangat memriskan hati

Sementara itu, kulihat penguasa negeri ini
Tertawa riang dalam kebahagiaan
Tidak ada duka mereka rasakan
Sungguh sangat memalukan, karena mereka tak peka

Mungkin inilah paradoks kehidupan
Kesejahteraan yang dijanjikan tak terealisasi
Keadilan yang dipintanya tak diberikan
Hingga realita hidup berkata demikian

Kesengsaraan mereka pikul
Tenggorokan mereka keriag karena kemisikinan
Sementara yang lainnya bahagia karena keserakahan sejati
Lagi-lagi inilah wajah dan realita kehidupan bangsa

Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju, Senin 07 Mei 2012, Pukul 15:00 Wita.

Rabu, 02 Mei 2012

~" IA TAK LAGI TERPUJI "~

Gubahan-gubahan katanya nampak tak bermoral
Tutur sapanya pun meredup kepada semua manusia
Sikap dan perilakunya tak terpuji
Mencerminkan, bahwa ia tak berpendidikan

Ia tak lagi peka
Ia tak lagi menggunakan naluri kebaikannya
Agama, Budaya, adat dan keberagaman tak lagi dihargai
Sungguh tak dihargainya

Aku tak tahu mengapa ia seperti itu
Aku tak tahu perubahan terjadi padanya
Tenggeran-tenggeran kalimat indah dulu pernah terukir
Terucap di hulu-hulu keramahannya

Aku tak tahu mengapa ia tinggalkan kebaikan
Aku tak tahu mengapa ia tak menghormati
Luapan emosi selalu terdepan pada dirinya
Egoismenya pun sering mewarnai tutur sapanya

Meskipun dulu ia begitu dicontoh
Meskipun dulu ia teladan bagi manusia yang lain
Meskipun dulu banyak yang mengaguminya
Namun kini, ia tak kurang dari sang iblis

Banyak yang mencercahnya
Banyak yang mengkerutkan dahinya jika dibicarakan
Hingga tak seorangpun yang ingin lagi berteman dengannya
Karena memang ia dan perilakunya tak terpuji

Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju, Kamis 03 Mei 2012, pukul 08:04 Wita.

~" PAGI YANG MENDUNG "~


Pagi yang tak tampat tegar
Menyapa penghuni alam semsta
Disana sini terlihat tak ada awan
Dan ruang gelap yang menyelimuti

Jiwa dan hati terbayangt-bayangi oleh suasananya
Meredup dan mulai terkoyak
Terkoyak karena tak nampakkan kecerahan pagi
Sungguh sangat mengisahkan koyakan itu

Aku yang ingin jujur pada pagi
Dalam pendar-pendar do'a disudut kemendungan ini
Menggeliat ungkapan pujian
Menggegar alunan rasa rindu

Ohhw pagi yang mendung..
Begitu dingin hingga ke dada
Seksama kudengar alunan lagu
Yang berdendang abadi sejak sang mentari itu

Ohhw pagi yang mendung..
Apakah matahari tak bersinar lagi di balik awan?
Lalu ini pertanda ke-redupan hati?
Semoga ini tak merenggut kebahagiaan pagi

Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju, Kami 03 Mei 2012, pukul 06:37 Wita.