skip to main |
skip to sidebar
Aku, ingin seperti para pujangga
Yang lihai menyusun kata-kata kemayu
Maka, akupun ingin mengukir kata
Melukis kalimat-kalimat bermakna indah
Sebagai persembahan pengabdian
Kepada ia yang akan menerima kalimat sanjungan
Tapi,
Tapi aku tak bisa
Sungguh tak bisa, seperti mereka para pujangga
Jari jemariku bergetar
Imajinasiku terseok melayang
Tak kuperoleh inspirasi yang biasanya menggelinding
Sungguh terasa sangat sulit berinspirasi
Mengapa kau pergi Inspirasiku?
Aku Ingin seperti para pujangga
Kembalilah, dan jangan biarkan aku meletih
Apa lagi lelah dengan keadaan kaku
Yang nantinya tetap akan menggetarkan sedeluruh jiwa ragaku
Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju-Sulawesi Barat, 18 Desember 2012.
Kuarahkan pandanganku ke-angakasa tinggi
Digaris-garis langit itu, matahari tak bercokol lagi
Yang terlihat hanyalah awan hitam mengelilingi
Melingkar, dan memberi tanda ataupun arti
Karena awan hitam itu,
Aku terusik seketika,
Aku terganggu oleh gelap cahayamu
Bergegaslah untuk pergi
Awan hitam,
Pergilah, dan jangan tutupi matahari yang bersinar
Mataku tak mampu menikmati kemayu alam
Jiwakupun tak tenang karenamu
Awan hitam,
Apakah engkau dengar aku?
Kutegaskan sekali lagi,
janganlah bertahan menutupi keindahan langit itu,
Meskipun memang engkau hanyalah awan hitam
Tetapi gelap hitammu mengganggu jiwa
Hingga, seolah ingin mencemohmu
Sungguh, ingin mencemohmu
Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju-Sulawesi Barat, 07 Desember 2012.
Diwaktu pagi menjelang, aku telah mulai beranjak
Beranjak dari kediamanku mencari nafkah
Dilautan luas,
Disitulah tempatku mengais rezeki
Tak perduli panas menyengat disiang hari
Ataupun dingin karena hujan menggerogoti tubuhku
Bahkan, kadang-kadang,
Ditengah-tengah gelombang pasang, aku tak gentar
Meskipun sebenarnya aku beranjak dari kediamanku penuh geletar
Diselimuti raga yang terus gemetar
Sampai-sampai, kadang aku berteriak;
Wahai sang gelombang laut yang tinggi,
Tak perlu kau surutkan niatku
Aku tak akan kembali kepangkuan daratan
Aku akan menantangmu
Tak perlu kau perlihatkan kekuatanmu
Tak perlu kau amuk perahuku
Tak perlu kau ancam aku dengan gelombangmu
Karena aku juga seorang pelaut pemberani
Aku akan terus mengarungimu
Akan kupasang layar perahuku,
Dan, kudayung terus perahuku
Karena aku tahu, tuhanku telah menyediakanku nafkah disana
Nafkahku bersama istri dan anak-anakku.
Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju-Sulawesi Barat, Kamis, 06 Desember 2012.
Dibalik sikap dan ke elokannya, kadang ia tertatih-tatih
Menukik keadilan dan ketenangan jiwa dari yang mengabaikannya
Padahal tulus nan indah hatinya,
Ikhlas memberi kasih sayang pada siapapun
Bahkan, banyak kaum adam yang melalaikannya
Melamah-lemahkan sosok keluhurannya
Sehingga, harus memikul beban kodrati sebagai insan wanita
Yang akan tetap melakat pada dirinya
Namun,
Dibalik semua itu,
Aku meminta pada kalian insan adam
Dengarkan ini
Rangkullah ia di pundak kalian masing-masing
Jaga, pelihara dan sayangilah ia
Rajut dan bingkailah doa ditelapak kedua tangan kalian
Agar mereka tetap menjadi Insan yang terkasih
Tahukah kalian Insan adam?
Wanita itu terhormat,
Maka jagalah kehormatannya
Wanita itu terhormat,
Maka hormatilah ia
Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju-Sulawesi Barat, 28 November 2012.
Lihatlah para manusia disekelilingmu
Sama saja,
Mereka semua sama, kamu tahu itu?
Jika kamu merasa,
Akupun merasa tersengkang
Tapi, aku berdiri
Tegak dan tegas
Berani belajar menantang kehidupan
Aku tak malu dan jengah
Apa lagi marah
Kesal?
Tidak, tidak
Kegayatanmu
Membelenggu,
Jangan gamang,
Gamang adalah kekhawatiranmu
Mari bersahaja dalam karya
Mari Bersintesa dalam kreatifitas
Karena itu aktualisasi diri
Maka janganlah Gamang
Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju-Sulawesi Barat, 28 November 2012.
Pada butir-butir cair yang kecil itu
Serentak kembali menghantam bumi
Terjatuh dengn perlahan di pelatarannya membasahi wajah alam
Sementara, langit terlihat gelap kehitaman
Pada butirt-butir cair yang kecil itu,
Gerimis menyekat
Menjatuhi ubun-ubun kepalaku
Menusuk juga kedalam tulangku,
Meski hanya gerimis,
Namun aku menggigil
Tersungkur kedinginan bersama senja sore
Dan aku tetap dipeluk oleh butir-butir cair yang kecil
Tatkala aku ingin berlari dari gerimis itu,
Meninggalkan dan kukubur bersama kenangan,
Tapi Gerimis tetap terkenang
Menyelinap dalam relung jiwaku bersama dingin
Gerimis itu.
Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju-Sulawesi Barat, Selasa, 21 November 2012.
Aku tahu, kalian tahu, dan semuanya tahu
Pancasila adalah Ideologi negeri ini
Pancasila adalah pedoman bernegara untuk ketahanan NKRI
Pancasila adalah jati diri bangsa
Dan pada pancasila dikibarkan bendera sebagai tanda jaya
Dan pada pancasila di teriakkan sila-sila sebagai tanda kesejahteraan
Dan pada pancasila di deklarasikan keamanan rakyat
Dan pada pancasila dijanjikan kemakmuran dan keadilan
Tapi, sungguh mengiris hati
Nilai-nilainya mulai terlupakan
Tak ada lagi kesejahteraan
Tak terasa lagi jaminan keamanan
Tak ada lagi kemakmuran
Tak ada lagi perlindungan dan keadilan di Negeri ini
Kemanakah kau pancasilaku?
Dimanakah kau kini?
Apakah engkau sedang tergerus oleh penguasa di Negeri ini?
Ataukah engkau sedang galau dihantam oleh Ideologi yang tak berketuhanan?
Disana sini, tak berkeadilan,
Disana sini banyak permusuhan antara mereka
Disana sini banyak pertikaian dan penindasan
Seolah-olah pancasilaku tak lagi jadi pedoman
Mungkin juga sudah tak lagi jadi Ideologi
Pancasilaku, kini terlupakan
Sungguh terlupakan
Coba dalami butir-butirnya
Coba pahami sila-silanya
Dan cobalah amalkan semuanya dalam internalisasi hidup ini,
Namun, sayang sekali pancasilaku
Sungguh kini pancasilaku terlupakan
Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju-Sulawesi Barat, Selasa, 20 November 2012.