skip to main |
skip to sidebar
Aku melihat Hujan kembali meniupkah buliran-buliran airnya
Sementara, angin menghembuskan udaranya
Aku duduk disini menunggu cahaya
Meleburkan mendung yang ingin berkuasa
Ohh Matahari, aku menunggu engkau bercokol
Lawanlah mendung gelap ini yang terlihat konyol
Menenggalamkan engkau sang pemberani yang getol
Makanya, silatlah dan mulailah nongol
Aku bersamamu
Dan terus menunggumu
Sebab sang mendung bersama hujan ini ingin menguasaimu
Menguasai seluruhnya untuk kekalahanmu
Lihatlah, karena hujan
Para hewan berlarian,
Para manusia berkejaran
Dan semua tak mampu melawan
Hanya kau matahari yang terus ditunggu-tunggu
Agar semua tidak pilu
Menikmati cahayamu
Yang nantinya, semua mengakui dan memujimu
Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju-Sulawesi Barat, 26 Desember 2012.
Saat senja dijemput oleh gelap
Mataharipun ikut tidur terlelap
Tak berani bercokol lagi, dan mulai sengap
Sehingga, berkuasa lagilah sang gelap
Para nelayan dikejauhan juga mulai bertolak
Kembali dengan keadaan letih dan terkoyak
Terkoyak oleh badai laut dan cuaca malam yang memberontak
Tak ada yang berani melawan karena jiwa tergertak
Sementara burungpun mulai bungkam
Gunung-gunung tinggi menjulang tertutup malam
Awan juga jauh, dan terlihat buram
Dan bulan malam, kini hanya bisa belajar bergumam
Sang gelap ini benar-benar menguasai
Hingga akupun letih menyendiri
Duduk diteras rumah yang sunyi
Hanya bersama anging yang sepoi-sepoi
Hampir semua sisi alam dikuasai
Hingga tak ada yang melawan kini
Karena sang gelap adalah sosok yang ditakuti
Dan sungguh sang gelap, berkuasa lagi
Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju-Sulawesi Barat, 21 Desember 2012.
Kami sadar, bahwa hanya ada dua tangan kosong
Yang kami bawa dan memperlihatkan kepada para pejuang dan para penyokong
Yang tentu besar harapannya untuk menyongsong
Tatanan daerah ini, dimasa depan masyarakatnya membangun bergotong royong
Kami tidak akan menggonggong
Kecuali jika ada yang buruk niatnya merusak tatanan daerah ini dengan berkongkalikong
Merusak dan menodai kesucian alamnya, yang selama ini membuat kami terrong-rong
Menjaga dan mengawal hingga akhir perjuangan kepalan tangan yang kokoh terdorong
Maka kami tegskan, penuh makna dan falsafah
Siapapun kalian yang diberi amanah
Siapapun kalian yang dipercaya jadi pemerintah
Kami titipkan surat buat kalian yang akan menjadi rahmat dan berkah
Kami berharap penegakkan keadilan
Yang nantinya menjanjikan keamanan dan kedamaian
Menuju titik kemakmuran
Hingga para penhuni yang mendiaminya memeroleh kesejahteraan
Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju-Sulawesi Barat, 20 desember 2012.
Pejuang tanah leluhur ini telah membuktikan
Hasil dari sebuah cita dan harapan panjang, terkabulkan
Meski terseok-seok mencari jalan kemenangan
Untuk melepaskan engkau dari Induk kesayangan
Demi namamu yang akan dilahirkan
Dan kini, benar-benar terbukti,
Kuberi engkau julukan si bungsu yang baru lahir
Dari rahim ibu yang memliharamu hingga nantinya engkau menjadi mahir
Seolah menjanjikan kesejahteraan yang nantinya terus mengalir
Mengalir didada, jiwa dan ragamu bergetir
Hai anak bungsu,
Nanti, jika kau besar janganlah ragu
Pelataran alam bebasmu, dan seluruh tubuh daratan maupun lautanmu
Tetap terpelihara dan berkemayu
Mengalun indah dalam selimut alam yang kemilau
Hai anak bungsu,
Lalu, dengan gagah perkasamu
Nantinya, Engkau tumbuh dewasa dan tak ragu
Mengepakkan sayap-sayap dan keberanianmu
Untuk menyejahterakan seluruh yang berjiwa di tanah leluhurmu
Azhari Belajar Nulis Puisi
Mamuju-Sulawesi Barat, 20 Desember 2012.